28 April 2013

Poros Politik Menuju Pemilu 2004

Pemilu 2004 memang masih jauh. Namun, atmosfir politik nasional mulai marak dan saling menabuh genderang perang. PKB kubu Alwi Shihab misalnya, nampak berusaha mengkonsolidasikan dirinya secara serius, ini terlihat dari usaha intensif yang dilakukan untuk menetralisir konflik berkepanjangan dengan kubu PKB Matori Abdul Jalil. Sudah barang tentu kalau konflik antar dalam (intern) PKB ini dapat cepat terselesaikan akan lebih mudah bagi mereka  mengkonsentrasikan diri menuju Pemilu 2004.

Partai Golkar yang saat ini sedang gonjang-ganjing dengan Akbargate yang diduga menilap dana Rp.40 milyar dari Bulog juga nampak terus pula mengkonsolidasikan diri. Terlebih saat ini mereka sangat gencar melobi partai besar di DPR untuk “menyelamatkan” Akbar sang Bos.
Perkembangan terakhir bila saja PDIP turut mendukung PKB dan Poros Tengah untuk membentuk Pansus Akbargate, maka pastilah sangat merugikan posisi Golkar.
Implikasi dari sikap PDIP yang akan mendukung dibentuknya Pansus ini sempat memancing reaksi Golkar yang menyatakan akan menarik dukungannya terhadap kabinet Mega-Hamzah. Bahkan Syamsul Muarif menyatakan bila memang Golkar menarik dukungannya, dirinya siap mundur dari kabinet, juga Rini Suwandi (Jawa Pos,9/1).
Dukungan politis terhadap Mega-Hamzah di tengah krisis yang masih ruwet ini tentu tetap sangat diperlukan oleh keduanya. Ini berarti tanpa dukungan Golkar jalannya pemerintahan Mega akan sedikit terganggu terutama dalam mensosialisasikan beberapa policy. Lebih jauh jika Golkar tidak dalam lingkaran kabinet sikapnya tentu akan lebih keras dan kritis. Yang jelas jika benar demikian maka antara Golkar dan PDIP akan saling tarik pengaruh dengan partai lainnya dan berusaha mencari titik-titik krusial, baik dalam arti positif maupun negatif___yang bukan tidak mungkin menimbulkan gesekan baru. Dalam kaitan ini banyak pakar politik menyarankan agar etika politik ditegakkan guna menghindari gesekan lebih keras antar partai.
Sementara yang juga tak kalah menarik fenomena konflik PPP saat ini. Sejak munculnya PPP Reformasi yang sangat kritis terhadap Hamzah, partai ini seolah “gamang” terhadap konstituennya. Kendati demikian Hamzah sangat yakin bahwa goyangan itu belum merupakan bara api, sehingga dianggap belum terlalu serius, sejauh ini Hamzah tetap yakin konflik ini dapat diselesaikan. Beberapa pengamat politikpun berkeyakinan partai berlambang ka’bah ini tak akan tersandung oleh gerakan PPP Reformasi. Bagi penulis yang menarik dari PPP adalah banyaknya jumlah mantan petinggi militer yang bergabung baru-baru ini. Kehadiran mereka patut dikritisi, ada apa gerangan, strategi apa yang akan di mainkan?

Melemahkan Poros Tengah ?
          Banyaknya jumlah mantan petinggi militer bergabung ke PPP memang harus dilihat sebagai fenomena tersendiri, apa target politik mereka serta strategi apa yang akan dimainkan. Kalau kita mau sedikit menghubungkan dengan kekuatan Poros Tengah masa lalu nampaknya hal ini bisa dijadikan sebagai prediksi awal, pasti mereka akan berupaya menampilkan energi dan potensi dirinya.
            Para petinggi yang masuk PPP ini bukan mustahil akan turut mempengaruhi bargaining position pada 2004 nanti, betapa tidak mereka sudah cukup memiliki pengalaman, dan disamping ada juga hal-hal yang menurut mereka mengkhawatirkan bila arah politik tak terkendali. Di sinilah mereka juga ingin menunjukkan jati dirinya.
Menurut salah seorang pakar politik, ada indikasi para petinggi ini akan mencegah Poros Tengah terlalu dikendalikan Amien Rais, apalagi jika misalnya sampai mencalonkan Amien Rais sebagai presiden.  Ada beberapa alasan kuat mengapa mereka harus mencegah Amien, misalnya sikap Amien yang sangat kritis terhadap militer di masa lalu (terutama Orba); juga berkat Amien dan kekuatan Poros Tengah arah politik nasional menjadi seperti sekarang ini. Kesemua itu menjadi alasan dan bukan mustahil turut mempengaruhi kekuatan Poros Tengah yang lebih concern kepada Islam. Jika hal ini terjadi bukan tidak mungkin pula mereka (militer) menjadi punya ruang untuk menerobos masuk melalui pintu PPP ini membelokkan arah Poros Tengah khususnya dan reformasi umunya.

PKB akan bujuk PDIP gabung

Jika memang para mantan petinggi militer itu menjadi kekuatan yang dapat mempengaruhi bargaining position, maka ini juga akan melicinkan jalan PKB dan PDIP untuk unjuk kekuatan.
Selama pemerintahan Mega, PKB bersikap relatif lunak terhadap pemerintah, terkesan PKB ingin “memelihara” hubungan baik mereka di masa lalu, sekaligus berharap dengan itu mereka akan dapat menuai (semacam konsesi) agar  PDIP bersedia berkoalisi terutama dalam menggolkan siapa yang akan maju menjadi Presiden 2004.
Dari kalkulasi yang ada, kekuatan politik di 2004 nanti relatif hampir sama dengan kekuatan Pemilu lalu. Poros Tengah akan tetap solid kecuali bila militer dapat berperan lebih besar mungkin agak berbeda. Sementara Golkar ibarat menunggu bola liar dan siap menembak ke arah gawang bila ada kesempatan. Golkarpun akan berupaya mencari pasangan berkoalisi, namun melihat platformnya, partai ini akan cenderung wait and see lebih dahulu.
Berbeda dengan PKB dan PDIP yang platform partainya agak sama serta relatif dapat disatukan, yang menjadi soal “figur” yang tampil tetap menjadi perhitungan dapat atau tidak mereka berkoalisi. Melihat pemilu nanti, Presiden akan dipilih secara langsung (atau dua tahap) tak pelak lagi persaingan memperebutkan koalisi antar partai akan seru. Yang patut diingat melihat perkembangan partai-partai yang ada saat ini, visi politisinya masih sangat berjangka pendek (sempit) dan belum dewasa, sehingga jangankan bersaing ke luar partai di intern partai sendiri mereka akan tetap gontok-gontokkan demi kepentingan sesaat. Untuk itulah andai saja partai-partai ini dapat meredam konflik internnya, niscaya akan lebih mudah  bagi mereka untuk berorientasi ke depan. Pertanyaannya kapankah politisi kita lebih dewasa, bervisi jauh demi bangsa dan negara.

Kesimpulan  

            Pemilu 2004 masih cukup jauh, berarti masih cukup waktu bagi masing-masing partai untuk mempersiapkan langkah yang paling strategis. Yang jelas dalam konteks Poros Tengah (PPP,PAN,PK,PBB) yang lebih cenderung berpihak pada konstituen Islam, jika masih ingin diperhitungkan menghadapi kekuatan PDIP, Golkar dan PKB, konflik intern partai harus segera dituntaskan. Lebih dari itu komitmen terhadap konstituen masing-masing yang dulu pernah dijanjikan berupa membasmi KKN, berpolitik lebih beretika harus dibuktikan. Tanpa itu jangan-jangan konstituen  “mutung” sehingga memilih lari meninggalkan Anda.
Wallahualam bissawab.

Ditulis Oleh : Amierul Azzam ~ Amierul El Neymar JR

Amier El Neymar JR Sobat sedang membaca artikel tentang Poros Politik Menuju Pemilu 2004. Dan terimakasih atas kunjungan sobat. Oleh Admin : Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar: