25 Maret 2013

Kontribusi Filsafat Ilmu Dlm Membentuk Ciri Khas Intelektual Muslim


A.     PENDAHULUAN
Manusia dilahirkan kedunia dengan membawa potensi yang sangat besar, unik dan selalu menarik untuk dikaji dan digali misteri dibalik keunikannya. Diantara potensi-potensi yang dimilikinya, yang paling besar adalah akal. Dengan akal manusia mampu menciptakan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada dan dengan kreatifitas akal pula manusia mampu membangun sebuah peradapan yang terbaik menurut mereka secara bertahap. Kebebasan yang dimilki oleh akal bukan berarti kebebasan tanpa batas, manusia mengenal adanya etika, manusia mempunyai kebebasan untuk bertindak dan berkehendak ( free wil and free act). Dalam konteks menjadi kholifa manusia harus siap tunduk dan patuh terhadap Dazt yang maha mengatur

Jika manusia mengunakan rasio yang dimilikinya maka ia akan menemukan realitas kekuatan-kekuatan alam yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan kemajuan manusia.Itu semua tidak terlepas sejauh mana pengembangan daya kreatif manusia itu dalam mengelola kekayaan alam dan mengembangkannya. Kalau dilihat dari segi metode yang ditempuh menurut paradigma barat ilmu dan agama tidak dapat dipertemukan dalam menjawab sebuah permasalahan. Dari segi metode ilmu, diperoleh melalui jalan pengamatan, eksperimen, verifikasi yang kesemuanya berdasarkan pada penggunaan inderawi. Sedangkan metode agama hanya dapat diperoleh melalui jalan keyakinan dan Imam terhapat utusan yang membawanya. Tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ilmu secara asasi bertujuan untuk kesejahteraan manusia dari sini jelas bahwa agama dan ilmu tidak dapat dipisahkan, karena tujuan beragama adalah untuk kesejahteraan  dunia dan akherat. Ilmu pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh kehidupan yang layak dan mulia di dunia dan di akherat 1
Dari sini filsafat ilmu dengan kreatifitasnya sangat besar dalam memberikan kontribusi untuk umat manusia terutama dalam membangun ciri khas intelektual yang dimilki oleh seorang muslim. Intelektual muslim di tuntut untuk dapat menerapkan kreatifitas ilmunya dengan ideology sehingga mampu bergerak dalam berbangai dimensi kehidupan manusia.2 Dengan memilki bekal yang cukup intelektual muslim tidak akan terbenam dan larut dengan berbangai macam kemajuan zaman, tetapi dengan kretifitasnya dan jiwa kritis, obyektif dan tanggung jawab berusaha mengeinternalisasikan segala permasalahan ummat. Kemudian dengan jiwa yang dimilkinya dapat menjawab permasalah menggunakan banyak alternatif pemecahhan yang hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
Cony R Setiawan berpendapat, dimensi kreatif dalam filsafat ilmu akan membawa kita pada suatu wawasan yang akan menjadikan pemahaman kita terhadap perkembangan manusia yang terus berupaya menguasai dunia fisik dan biologis serta interelasinya dengan nilai-nilai insani yang digali dari kehidupan spritual dan dunia metafisika.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa poin permasalah yang meliputi :
1.     Apa intelektual Muslim ?
2.     Apa dimensi kreatif ?
3.     Dimensi kreatif filsafat ilmu
4.     Tanggung jawab intelektual Muslim
C.     PEMBAHASAN
1.     Intelektual Muslim
Manusia pada dasarnya berbeda dengan mahluk lain yang hanya memiliki hawa nafsu dalam tubuhnya, manusia dibekali dengan akal pikiran  dengan segala potensi-potensinya. Manusia hidup dengan akal, pikiran, rasa, karsa dan kemauan ini menjadi modal untuk mencapai semua cita-cita dalam memenuhi segala kebutuhannya3 Akal dipergunakan untuk perpikir, tetapi sebagian orang berpendapat bahwasaanya untuk perpikir perlu meletakkan kedua telapak tanggan  di kepala perlu tempat yang sepi untuk mendapatkan suatu hasil pemikiran. Ajaran Islam mengajarakan untuk selalu berpikir apa yang kita lihat  (makro cosmos) dan kita rasa (mikro cosmos) dengan perpaduan dua kenyataan ini maka hasil pemikiran akan lebih obyektif.
Sejarah berbicara dunia Intektual Muslim telah berkembang sejak Islam datang namun perkembangan pesat terjadi pada masa keemasan Islam pada daulah Bani Abbasiyah dengan lahirnya beberapa tokoh Intelektual seperti: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusdy, Ibnu Khaldun4 dan masih banyak yang lainnya. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa orang muslim pada awalnya adalah musuh bagi ilmu atau tidak suka terhadap ilmu karena mereka beranggapan bahwa ilmu adalah hasil pikiran manusia yang banyak membawa kemudaratan. Mereka hanya menerima ilmu yang bersumber atau berasal dari Al- Qur’an Dan Al- Hadist. Pendapat diatas pada kenyataan tidak benar karena pada dasarnya ilmu adalah bebas nilai, sehingga dalam penggunaannya tergantung pada penggunanya itu sendiri, hal ini dapat dilihat pada tokoh Islam semisal: Al- Kindi, Al- Farabi, Ar-Razi ketiga tokoh ini adalah orang-orang ahli filsafat, yang mana pertama kali filsafat dibawa oleh ilmuan non Muslim yaitu Plato, Socrates, dll. Para tokoh intelektual Muslim tidak menolak secara keseluruhan tetapi mereka mengadopsi dan mengembalikannya lagi pada sumber ajaran Islam. Meski kita tahu ada beberapa ilmu yang dihasilkan dari mengadopsi ilmu-ilmu barat yang kurang sesuai atau berada di luar lingkungan kita tetapi para ilmuawan telah banyak berjasa terhadap dunia Islam terutama ketika dunia barat mengalami keterpurukan sampai mereka mengalami masa renaissaince (lahir kembali) dalam bidang ilmu pengetahuan yang mana mereke banyak belajar pada para tokoh Intelektual Muslim.
Ilmu yang dihasilkan oleh para Intektual muslim berasal dari pemikiran yang mendalam pada apa yang mereka lihat, dengar dan rasa selanjutnya di kembalikan pada sumber asal yakni al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman. Manusia dalam kehidupannya menghadapi tiga persoalan yakni: sebagai mahluk otonom, sebagai mahluk yang mempunyai kebutuhan jasmani dan rohani, manusia yang butuh tersendirian (mandiri) walaupun tidak dapat dipisahkan dengan orang lain karena manusia tidak akan bisa hidup tanpa adanya orang lain. Dari tiga persoalan diatas perlu mendapat perhatian, menusia adalah mahluk otonom, yang mana manusia bebas melakukan apa yang di inginkannya, tetapi tetap dalam frame of  reference dalam konteks    Islam tidak ada satu perbuatan yang nantinya tidak dimintai pertanggung jawaban5  Manusia dalam konktes free wil nya harus mampu mengatur dengan dzat yang yang maha mengatur (Allah), memang pengembangan kreatifitas disarankan pada kebebasan tetapi sulit diterima jika kreatifitas melanggar norma yang sudah ada atau  menyinggung perasaan orang lain. Hal inilah yang dipengang oleh para Intelektual Muslim mereka tidak ingin terjebak dalam lingkaran filsafat yang sekuler yang pada akhirya akan semakin menjauhkan dia dari tujuan awal diciptakannya manusia ke muka bumi yakni untuk beribadah.    
2.     Dimensi Kreatif
Ilmu bukanlah hasil pemikiran manusia semata-mata yang berdasarkan pada pengalaman (empiri) dengan penelitian, percobaan, pembuktian, melaikan manusia telah dibekali dengan satu komponen yang canggih yaitu akal untuk berimajinasi6. Dengan berimajinasi manusia mampu menggali dan memproduksi ide-ide dengan sebanyak-banyak dan mampu berpikir kritis sehingga hal ini dapat meningkatkan kwalitas hidup. Kreatifitas tidak dapat dilepaskan dari peran imajinasi, imajinasi adalah potensi dasar dan tiada batas yang di miliki manusia7. dengan imajinasi manusia dapat mempertahankan posisinya diantara mahluk lain selain itu dengan imajinasi manusia mampu menggali potensi yang dimilkinya sehingga mampu menciptakan segala sesuatu yang diinginkannya.
Kemampuan berimajinasi merupakan suatu anugerah yang sekaligus menuntut manusia untuk berkecimpung dalam suatu filsafat ilmu yang mencari kesejahteraan hidup manusia. Oleh karena itu filsafat ilmu pada abad ke 20 tidak lagi mengutamakan penalaran semata, tetapi bertujuan untuk meningkatkan dan membuka tabir alam yang ada dalam suatu dimensi yaitu dimensi kreatif8. Jadi dimensi kreatif manusia dapat diketahui sejauh mana mereka dapat memfungsikan kemampuan dalam diri untuk membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam membuka tabir alam sehingga dapat mengetahui makna penciptaan alam yang sebenarnya. Kreatifitas lahir bersama dengan lahirnya manusia ke muka bumi. Kreatifitas dalam Islam dikenal dengan fitrah, kata fitra mempunyai dua makna: Pertama, berarti suci, yang mana dalam perkembagannya tergantung pada lingkungan sekitar, berdasarkan pengalaman. Kedua, pembawaan, bakat, kreatifitas. Pengertian kedua inilah menjadi pembahasan.
Dimensi kreatif merupakan integrative dari empat fungsi dasar yaitu: a) berfikir rasional, b) perkembangan emosional, c) pengembangan bakat khusus, d) kesadaran yang menghasilkan imajinasi dan fantasi, jadi kreatifitas seseorang dapat berkembang jika  keempat komponan ini dapat bejalan beriringan, jika salah satunya belum dapat berfungsi maka kreatifitas belum terjadi sepenuhnya.9 . penyatuan keempat komponen ini sangat mempengaruhi keintelektulan seseorang karena penyatuan ini dapat menghasilkan suatu kreatifitas baru dan berpengaruh. Selajutnya keterkaitan kreatifitas dengan perkembangan ilmu adalah banyak muncul penemuan-penemuan baru yang merupakan hasil dari kreatifitas seorang intelektual. Penemuan ini harus selalu dihargai dan direspon oleh para penguasa karena sejarah telah menceritakan kerajaan Eropa pernah dilanda kegelapan dan kemandekan karena para penguasa gereja tidak merespon terhadap perkembangan keilmuan yang ada pada saat itu.  Jika perkembangan suatu ilmu belum dapat pengakuan dari masyarakat maka hal ini belum dikatakan berhasil, karena kebenaran ilmu itu tidak hanya berdasarkan pada kebenaran empirik saja melaikan banyak faktor yang mendukungannya antara lain: kondisi lingkungan manusiawi, aspek spritual, material, moral,  para pencetusnya. Untuk itu daya kreatif ilmuawan sangat mempengaruhi perkembangan suatu ilmu untuk menguji kenbenaran ilmiyah dari penemuan tersebut. Tindakan kreatif tidak hanya muncul dalam ilmu, namun juga ada dalam seni, budaya dan teknologi. Intinya dimensi kreatif merupakan pokok dari berbagai penelusuran permasalahan dengan tumbuhnya ilham dalam berbagai penemuan baru sehingga terciptalah suatu ilmu, paradigma, atau teori baru melalui sintetis berbagai kehidupan yaitu, rasio, rasa, indera dan intitusi yang merupakan seluruh fungsi dasar manusia. Kepekaan terhadap suatu masalah harus selalu menjadi tumpuan ilmu itu sendiri dalam perwujudan potensi kreatif individu maupun kelompok masyarakat tertentu dalam menemukan, mengembangkan, serta mendisiminasikan ilmu tersebut setelah ada penerimaan. Potensi kreatif dan perwujudan ini pula yang ternyata merupakan kemungkinan dan kekuatan untuk menjalankan barbagai tantangan perubahan kehidupan manusia dalam peningkatan harkat dan martabatnya. Apa yang dihayati sebagai ambisi terkadang dalam potensi, ilmu dalam hal ini adalah wahana keterwujudan mencapai tujuan10    
3.     Dimensi Kreatif Filsafat Ilmu
Jika kita membicarakan dimensi kreatifitas filsafat ilmu maka pada dasarnya manusia menjadi subyeknya . secara harfiah kreatifitas menurut kamus besar Indonesia adalah kamampuan untuk mencipta, atau daya cipta11. Jujun S. Suriasumantri  megutip dari Horance B. English dan Ava C English mengartikan kreatifitas adalah kemampuan untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah12. menurut Conny  pada abad 19 filsafat ilmu membahas tentang pengetahuan sebagai hasil pemikiran manusia, maka pada abad 20 bergeser yakni tentang manusia itu sendiri karena manusia memilki kemampuan berimajinasi yang kemudian disampaikan dalam bentuk dimensi kreatifitas yang merupakan model integeraive dari berpikir secara rasional dengan  pengembangan bakat, emosional dan penggunaan imajinasi serta fantasi13
Manusia dengan berbagai macam potensinya mampu menuangkan kreatifitasnya dalam membangun peradapan, hal ini dapat kita lihat dari tulisan sejarah yang mana manusia mengalami perubahan dari zaman purba hingga zaman post modern abad 21. begitu pula pada taraf akal budi manusia, menurut filsafat positivisme yang dikemukakan oleh Auguste Comte (1798-1857) perkembangan akal manusia di mulai dari manusia mistis ke manusia ilmiah melalui tahapan tertentu yakni bermula dari tahapan mistis atau teologis terhadap metafisis dan berakhir pada tahapan yang paling tinggi yakni tahap positif 14. Dalam kajian filsafat ilmu manusia menjadi subyek pembahasan telah menghasilkan ilmu pengetahuan meskipun melalui perjalanan yang cukup panjang dan lama yang dimulai sejak zaman pra sejarah dan zaman purba. Pada zaman purba dimulai dengan pertanyaan apa dan bagaimana, pada saat ini pengamatan dan membeda-bedakan, memilih, dan melakukan percobaan adalah langkah yang di lakukan manusia pada zaman tersebut. Kemudian di lanjutkan dengan zaman sejarah melalui daya abstraksi, manusia memulai untuk berlatih menulis, membaca dan berhitung dengan daya kreatifitasnya hal ini terbukti dengan adanya kerajaan-kerajaan yang ada semisal : Mesir, Maya Inca, Babilonia dll. Antara tahun 600 sampai 200 tahun masyarakat Yunani mulai mengembangkan penalaran dalam menerima segala informasi yang mereka terima, mereka mulai memikirkan segala sesuatu sampai ke akar-akarnya. Pada zaman inilah lahir para tokoh-tokoh filosof terkenal seperti: Plato, Socrates, Aristoteles, dengan metafisikanya. Selanjutnya pada abad pertengahan di mana pengaruh Islam mulai dirasakan dalam ilmu pengetahuan  lahirlah tokoh intelektual Muslim seperti : Al-Khoarizmi dengan penemuan angka Nol nya, Ibnu Rusdy tentang ilmu kedokterannya, Omar Kayam dengan syair-syairnya Al- Idris tentang astronominya dan masih banyak yang lainnya. Setelah abad pertengahan ilmu pengetahuan mengalami pencerahan 15. Sedangkan pada zaman modern manusia mengalami perkembangan yang cukup pesat dan banyak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki ide-ide kreatif yang bersifat revolusioner dan inovatif semisal Galilio dkk
Menurut Gowan dan Trefinger proses kreatifitas manusia dapat berkembang melalui empat tahapan, pertama, tingkat kreatifitas di tandai dengan timbulnya pemikiran yang bersifat difergen dan baru dan bersifat intuitif. Kedua, psikodelik atau perluasan pemikiran dan perasaan yang di tandai dengan pengembangan kesadaran untuk menerima sesuatu yang baru dari kebiasaanya. Ketiga, tingkat imajinatif ditandai dengan teresapinya tingkat kreatif dan psikodelik yang kemudian akan menghasilkan teori-teori baru konsep dan model yang belum pernah di rasakan oleh kelompok manapun16. Keempat, perkembangan imajinasi, yang mana dari imajinasi akan melahirkan kreatifitas. Selanjutnya untuk menjadi sunguh-sunguh kreatif maka imajinasi dan fantasi harus terealisasikan dalam alam nyata, yang artinya imajinasi adalah ide-ide yang abstrak yang orang tidak akan paham sebelum dituangkan dalam alam nyata atau dunia kongkret.
Ditinjau dari segi aksiologinya Ideal Bacon mengatakan bahwa ilmu bagi kemaslahatan manusia (kemanusiaan) yaitu mengusahakan posisi yang lebih menguntungkan bagi manusia dalam menghadapi alam17. Sehingga manusia dituntut untuk berpikir, merenung dalam mencari sejumlah alternatif penyelesaian masalah guna mengatasi berbagai tantangan zaman yang masih tetap berada dalam kejumudan untuk dikembangakan dan diproses sehinga menjadi hasil pemikiran yang sesuai dengan keilmuan yang hakiki agar mencapai kehidupan menguntungkan. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dengan jalan filsafat akan mengatarkan manusia untuk berfikir dan bersikap arif18. Dengan pengembangan pola pikir secara rasional dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka akan melahirkan argumen-argumen dan ide-ide yang akan mengantarkan manusia kepada kewibawaan dan keraifan dalam bertindak serta akan mempunyai pandangan yang kritis terhadap tradisi sehingga tidak akan menerima secara begitu saja tanpa adanya pemikiran yang mendalam. Filsafat akan mendorong seseorang untuk bersikap mandiri, bebas dan radikal namun memiliki tanggung jawab kemanusiaan 19, dengan demikian filsafat dapat dikatakan kegiatan berfikir dengan tujuan yang ada.  Dalam hal menuangkan ide kretifnya manusia masih memerlukan etika. Etika inilah yang nantinya akan menentukan perbuatan baik dan buruk, bagaimana cara seseorang melakukan pilihan dalam berbuat.20 Karena pada dasarnya pemikiran melalui jalan filsafat, pemikiran yang mendekati suatu kebenaran sama dengan yang dikehendaki oleh agama. Meski agama dan filsafat sama-sama mencari suatu kebenaran akan tetapi tetap masih ada perbedaan diantara keduanya yaitu filsafat dalam mencari kebenaran dengan tidak mengingkari dan mengurangi wahyu, tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu walaupun ada beberapa hal yang masuk kewilayah agama, diselidiki oleh filsafat. Sedangkan kebenaran dalam agama melalui jalan berdasarkan wahyu sehingga selain dengan pemikiran juga diperlukan keimanan. Kebenaran yang dihasilkan oleh filsafat diharapkan kebenaran yang ber-etika anggapan ini tidak selamanya dapat dipengang karena pada kenyataanya  ilmu selalu berkembang pesat bahkan seringkali melupakan unsur etika. Ilmu adalah netral, pada saat ini kenetralan ilmu jarang kita temukan karena banyak para ilmuwan atau para intelek lebih membiarkan kreatifitasnya melaju terus tanpa diimbangi oleh etika lebih lagi dengan agama, tebukti bayaknya penemuan yang tidak lagi mengutamakan etika , salah satu contoh : cloning embrio, bahan-bahan peledak dst
4.     Tanggung Jawab Intelektual Muslim
Berbicara masalah tanggung jawab kita harus tetap merujuk pada al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman utama orang Islam, untuk menentukan apa saja kewajibna seorang intelektual muslim al-Qur’an menyebutkan ada dua kewajiban intektual muslim sama dengan memenuhi janji Allah dan menyambungkan apa yang Allah perintahkan untuk menyambungkannya, perjajian ini disebut dengan Mitsaq. Dr Muhammad Mahmud Hijaz mendefinisakan hal ini sebagai pengikat diri antara 1. intelktual muslim  dengan tuhannya. 2. antara  drinya sendiri sebagai individu. 3. antara intektual muslim dengan masyarakat. Seorang intelektual harus memilki sebuah komitmen yang terikat pada nilai-nilai keintelektualan muslim dan melaksanakan semua komitmen ini adalah memenuhim mitsaq. Seorang intelektual yang bertanggung jawab mampu menjadi figur pemimpin dan mampu menghidupkan semangat persatuan ditengah masyarat yang berpecah belah, selalu mencari titik temu dalam menyelelesaikan masalah, menghubungkan ilmu pengetahuan dengan  agama, menanamkan semangat untuk saling menghargai pendapat yang tumbuh dalam Islam, membiasakan keberagaman pendapat selama masih dalam koridor agama Islam.   
Seperti aktifis muslim lainnya, inetelektual muslim adalah seseorang yang harus selalu berusaha mengembngkan kesatuan tata kehidupan manusia dan masyarakat yang ramah sebangai pelaksana dan relisasi fungsi dan ibadah yang berdasarkan pada al-Qur’an dan Hadist 21, Akal  sehat harus selalu dikembangkan secara kreatif kritis dan inovatif sebangai ala pemahaman dan pengamalan islam sehingga kehidupan duniawi dapat mengantarkan kedalam kehidupan uhrawi yang lebih kekal. 
Jika umat Islam tidak ingin ketinggalan dengan bangsa lain maka sudah saatnya intektual bangkit dan kembali menghidupkan (revitalasi) warisan intelektual Islam yang selama ini terabaikan dan jika perlu mendefinisikan kembali (redefinisi) ilmu dengan dasar epistemologi yang di derivisi oleh wahyu. Ilmu-ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta selama memerankan peran ini maka ilmu itu suci. Yang membedakan Islam dengan yang lain adalah penekanan terhadap masalah sain. Al-qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan serta menetapkan orang-orang yang berilmu pada derajat yang tinggi. Ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan berakibat lemah dalam penafsiran dalam al-Qur’an, sebab penafsiran dalam al-Qur’an dibutuhkan kreatifitas keilmuan yang potensial hal ini bergunan untuk membangun sebuah kerangka peradapan22. Isi alam yang ada dapat diubah oleh manusia dengan kreatifitasnya menjadi bagian dalam kebudayaannya yang merupakan produk dari kreatifitas akal itu sendiri. Jika dihubungkan dengan ilmu pengetahuan ilmu memilki kedudukan yang terpenting sehingga setiap saat manusia tidak dapat dilepaskan dengan ilmu pengetahuan. Keunggulan umat manusia atau suatu bangsa ditentukan dengan tingkat pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang menggunakan rasio anugerah dari tuhan untuk belajar ayat-ayat dari Allah.
Dengan akal dan langkah yang kritis generasi baru intelektual muslim dapat membebaskan diri secara metode dari rasa sungkan terhadap kebesaran pemikir-pemikir terdahulu Islam, sikap ini mampu melahirkan suatu pemikiran-pemikiran yang bisa menggugat kesahihan pemikiran ulama yang terdahulu, sehingga generasi baru intelektual muslim dapat mengembangkan kreatifitas dengan penuh percaya diri. Jadi sebangai intelektual dapat mengembangkan dan menghidupkan kembali warisan intelektual muslim yang selama ini telah terabaikan. Seorang intelektual muslim tidak boleh melepaskan dirinya dari jiwa kemuslimannya dan harus bisa mensosialisasikan ajaran Islam terhadap berbangai unsur pembangunan yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi ( kelaman ) intinya adalah bagaimana seorang intelektual dapat memberikan nafas Islam kepada ilmu pengetahuan yang berkembang23  Islam dengan berbangai ayatnya telah menyuruh umatnya untuk mengkaji ilmu pengetahuan secara umum untuk meningkatkan mutu kehidupannya dalam berbangai bidang sehingga dapat terwujud bahwasanya manusia adalah mahluk yang mempunyai martabat tertinggi diantara mahluk lainnya.   
D. KESIMPULAN
Peradapan manusia sangat erat kaitanya dengan ilmu pengetahuan, cara berfikir dan kreatifitas serta moralitas dari manusia pada saat itu, sebab semakin tinggi pemahaman ilmu pengetahuan akan mampu melakukan pilihan. Agama sebangai alat kontrol  memilki kebenaran mutlak di luar kemapuan berfikir manusia yang sangat terbatas dan lebih banyak terpengaruh kepada banyak kepentingan tertentu dari hasil pemikirannya. Disini letak keterkaitan antara filsafat ilmu dan agama sebangai alat kontrol kebebasan berfikir manusia.
Filsafat ilmu memberikan wawasan dalam hal kreatifitas karena dengannya manusia akan mampu berfikir secara mendalam sampai keakar-akarnya baik disadari maupun tidak karena para pemikir telah menggunkannya dalam proses kreatifitas dalam menghasilakan sebuah ilmu pengetahuan. Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian oleh para intelektual muslim yakni ajaran agama yang tetuang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang sangat terbuka untuk di lakukan ijtihad. Dalam al-Qur’an banyak tertuang ayat-ayat yang masih bersifat Mujmal atau umum disini kreatifitas intelektual sangat dibutuhkan dan hendaknya para intelektual tidak hanya memikirkan ayat-ayat yang Qouliyah tetapi ayat-ayat yang berfikat Kauniyah harus mendapat perhatian sehingga ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat kepada masyarakat.
Filsafat ilmu telah banyak menumbuhkan daya kreatifitas para intelektual  dalam bidang pemikiran keilmuan sehingga mampu merubah dan mengembangkan tradisi lama kearah ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih modern. Dari sini dapat disimpulkan seorang intelektual muslim harus mampu :
a.       Mencari akar permasalahan yang sedang terjadi dimasyarakat dan dapat melepaskan diri dari kejumudan yang berkepanjangan
b.       Mempelajari semua ilmu yang ada dialam ini dan megembalikannya lagi ke sumber yang utama yaitu al-Qur’an dan Hadist, seta mampu memberikan nafas Islam terhadap semua ilmu
c.        Menghidupkan tradisi keintelektualan yang telah lama ditinggalkan dan mengembangkan tradisi modern secara Islami 


DAFTAR PUSTAKA
M Zainuddin, Filsafat Ilmu Prespektif Pemikiran Islam, Bayu Media
Imam Bawani, Cendekiawan Muslim Dalam Prespektif Pendidikan Islam, Bina Ilmu 1991
Mastuhu, Memberdayakan Pendidikan Islam, Logos, Jakarta 1990
Nurckholis Majid, Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta
Ahmad Zubair, Dimensi Etik Dan Estetika Ilmu Pengetahuan Manusia Kajian Filsafat Ilmu, Lesfi Yogyakarta
Conny Setiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, Rosda Karya Bandung 1999
Maswan, Mengungkap Tabir Imajinasi Dan Ide Manusia, Sinar Baru, Bandung 1999 Kamus Besar Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
Jujun S Sumatri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta,  2003
Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, Rosda Karya Bandung 2003
Saifullah, Buku Ajar Konsep Dasar Filsafat Ilmu Bagian I, UIN  Malang 2004
Abdul Munir Mulkam, Paradigma Intelektual Muslim, Sipress, Yogyakarta 1993
Louis Karttsof, Pengantar Filsafat, Trjmh Soejono Soemargono, Tiara, Yogyakarta, 1992
Mehdi, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, Mizan, Bandung 2003
Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Raja Grafindo, Jakarta 2004
Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus 1997
W Posepoprodjo, Logika  Ilmu Menalar, Pustaka Grafika, Bandung1999
Poedjawitjatna, Tahu Dan Pengetahuan Pengantar Keilmu Dan Filsafat, Rineka Cipta, Jakarta 1991







1 M. Zainuddin, Filsafat Ilmu Prespektif Pemikiran Islam, Bayu Media. 2003. Hlm 1
2 Imam Bawani, Cendekiawan Muslim Dalam Prespektif Pendidikan Islam, Bina Ilmu. 1991. Hlm 27
3 Mastuhu,Memberdayakan Sitem Pendidikan Islam, Logos, Jakarta. 1999. Hlm 22
4 Nurckholis Majid, Khazanah Intelktual Islam, Bulan Bintang, Jakarta. Hlm 81
5 Ahamd Zubair, Dimensi Etik Dan Estetika Ilmu Pengetahuan Manusia,Kajian Filsafat Ilmu, Lesfi. Yogjakarta. Hlm 16
6 Conny Semiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, Rosda Karya, Bandung. 1999. Hlm 1
7 Maswan, Mengungkap Tabir Imajinasi Dan Ide Manusia, Sinar Baru, Bandung 1989 . Hlm 9
8 Conny Setiawan, Op. Cit, Hlm. 60
9 ibid, hlm 61
10 Ibid, Hlm 79
11 Pusat Pembinaan Dan Pengembngan Bahasa 1989 Kamus Besar Indonesia, Jakarta , Balai Pustaka. Hlm. 465
12 Jujun S Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta 2003 Hlm. 269
13 Semiawan R Conny Op Cit. Hlm 60
14 Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, Rosda Karya, Bandung 2003. Hlm 115
15 Saifullah, Buku Ajar Konsep Dasar Filsafat Ilmu Bagian I, UIN Malang 2004. Hlm 36
16 Conny R Semiawan, Op Cit Hlm 68
17 Saifullah, Op Cit Hlm 7
18 Abdul Munir Mulkam, Paradigma Intelektual Muslim, Sipress, Yogyakarta 1993 Hlm. 163
19 ibid
20 Louis Kattsof, Pengantar Filsafat, Trj Soejono Soemargono, Tiara, Yogyakarta 1992. Hlm 80
21 Munir Mulkam Op Cit Hlm163
22 Mehdih, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an , Mizan, Bandung 2003. Hlm 25
23 Imam Bawani Op Cit Hlm 64

Ditulis Oleh : Amierul Azzam ~ Amierul El Neymar JR

Amier El Neymar JR Sobat sedang membaca artikel tentang Kontribusi Filsafat Ilmu Dlm Membentuk Ciri Khas Intelektual Muslim. Dan terimakasih atas kunjungan sobat. Oleh Admin : Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar: