24 Maret 2013

Makalah Tentang Manajemen Piutang



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap pemimpin perusahaan selalu menginginkan penjualan barang daganganya dibayar secara tunai. Namun, di lain pihak, penjualn secara kredit  justru akan memberi peluang untuk peluasan pasar sehingga dapat menambah laba usaha, meski hal ini juga bukan tanpa resiko. Biasanya keberhasilan suatu perusahaan dilihat dari segi financialnya, yaitu seberapa besar laba yang di peroleh dari hasil usahanya. Sehingga setiap perusahaan berlomba-lomba menaikan besaran profit yang didapatnya. Namun untuk mencapai tujuan yang diinginkan, suatu perusahaan harus mengoptimalkan segala kegitan dalam perusahaan tersebut, baik itu produksi, pemasaran maupun penjualannya.

Masalah yang umum dihadapi perusahaan ialah penagihan piutang yang telah jatuh tempo tidk selalu daapat diselesikan seluluhnya. Jika keadaan itu terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka modal perusahaaan akan semakin kecil. Dengan begitu penagihan piutang perlu  mendapat perhatian dan penanganan serius agar resikoyang mungkin timbul dapat dihindari sekecil mungkin. Dalam hal ini, pimpinan seharusnya juga turut aktif mengelola penagihan piutang  agar tidak sampai menghambat operasi  atau kegiatan perusahaan.
B. Rumusan Masalah
a)    Apa yang dimaksud dengan piutang?
b)    Apa saja runag lingkup menejemen piutang?
c)     Apa saja faktor yang mempengaruhi manajemen piutang?
C. Tujuan Penulisan
a)    Untuk mengetahui dan memahami pengertian piutang.
b)    Untuk mengetahui dan memahami ruang lingkup menejemn piutang.
c)     Untuk mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi manajemen piutang.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Piutang
Menurut Anton M. Samosir mengartikan bahwa piutang sebagai unsure modal kerja yang selalu berputar menurut siklus perusahaan normal. Sedangkan menurut Indriyo, piutang dipakai dalam arti yang sempit, yaitu hanya menunjukkan tagihan yang akan dilunasi degan uang.[1]
Sehingga piutang dapat diartikan sebagai  tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang karena terjadinya transaksi dimasa lalu. Walaupun pada dasarnya semua perusahaan dagang atau industri menginginkan penjualan cash, tetapi karena adanya keterbatasan daya beli masyarakat, atau alasan lainnya dilakukan penjualan secara kredit. Penjualan secara kredit akan dapat meningkatkan omset penjualan, akan tetapi memiliki resiko tertundanya penerimaan kas, sehingga membutuhkan investasi yang lebih besar. Selain itu dapat juga mengakibatkan kerugian karena menunggak atau bahkan tidak tertagih. Semakin lama piutang tertunggak akan semakin besar investasi yang dibutuhkan.
Piutang, salah satu jenis transaksi akutansi yang mengurusi penagihan konsumen yang berhutang pada seseorang, suatu perusahaan, atau suatu organisasi untuk barang dan layanan yang telah diberikan pada konsumen tersebut. Pada sebagian besar entitas bisnis, hal ini biasanya dilakukan dengan membuat tagihan dan mengirimkan tagihan tersebut kepada konsumen yang akan dibayar dalam suatu tenggat waktu yang disebut termin kredit atau pembayaran.  Piutang- piutang dapat digologkan atas:[2]
1.      Piutang Usaha (trade receivabel)
Piutang usaha merupakan segala tagihan dari penjualan barang-barang atau jasa yang dilakukan secara kredit oleh perusahaan. Jika tagihan itu didukung oleh tagihan tertulis oleh debitor kepada perusahaan untuk membayar pada suatu tanggal tertentu, piutang tersebut adalah piutang wesel.
2.      Piutang lain-lain (non trade receivabel)
Piutang lain-lain merupakan tagihan yang tidak berasal dari penjualan barang maupun jasa dalam kegiatan normal perusahaan, dalam hal ini posisi piutang dalam siklus aktiva lancar menurut Bambang Riyanto adalah sebagai berikut:

Kas                      Inventory                   Piutang                       Kas

Dari gambar diatas, bahwa piutang timbul sebagai akibat penjualan barang atau inventory dan mempunyai posisi dekat degan kas, degan demikian piutang juga merupakan investasi.
B.     Ruang Lingkup Menejemen Piutang
·           Kebijaksanaan kredit standar kredit/kualitas rekening yang diterima, jangka waktu/periode kredit yang diberikan, discount/potongan tunai yang diberikan untuk pembayaran yang lebih awal.
·           Kebijaksanaan pengumpulan piutang, dan faktor-faktor lain yang relevan.
·           Keputusan kredit ini menyangkut tradeoff antara keuntungan(marginal profit) dan biaya tambahan (marginal cost) yang disebabkan oleh perubahan dalam salah satu atau kombinasi elemen-elemen tersebut.[3]
C.      Faktor yang Mempegaruhi Jumlah Investasi Dalam Piutang
Menurut  Bambang Riyanto, Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam Piutang adalah:[4]
a.       Volume penjualan kredit, semakin besar volume penjualan kredit, makin besar investasi yang tertanam dalam Piutang. Artinya perusahaan harus menyediakan investasi yang lebih besar dalam piutang, dan meski beresiko semakin besar, profitabilitasnya juga akan semakin besar.
b.      Syarat pembayaran (termin), semakin lama masa kredit, semakin besar invesatasinya. Syarat penjualan kredit dapat bersifat keta tatau lunak tergantung pada kondisi perusahaannya. Umumnya sarat  pembayaran yang ketat tampak dari batasan waktu pembayaran yang pendek atau pembebanan bunga yang berat untuk pembayaran piutang yang lambat.
c.       Ketentuan tentang pembatasan kredit, perusahaan dapat menentukan batas maksimal (palfon) bagi kredit, batasan kredit dapat berupa kuantitatif (plafon kredit, semakin besar plafon kredit perpelanggan makin besar investasi yang diperlukan) dan kualitatif (selektif terhadap pelanggan kredit, makin ketat seleksi akan semakin memperkecil investasi dalam piutang).
d.      Kebijakan dalam penagihan piutang, pengumpulan piutang dapat bersifat aktif (menggunakan debt collector) pengumpulan piutang lebih tepat waktu tetapi perlu tambahan biaya pengumpulan piutang, atau pasif yaitu keyakinan bahwa debitur menepati janji, maka resiko tertunggaknya piutang lebih besar.
Perusahaan juga berharap agar pelanggan menyetor pembayaran hutang tepat waktu. Kebijakan ini ditempuh degan cara:
Ø  Memungut secara langsung
Ø  Member peringatan degan mengirim surat kepada pelanggan
e.       Kebiasaan membayar pelanggan, apabila sebagian besar pelanggan membayar pada masa diskon, maka membutuhkan investasi lebih kecil, tetapi jika pelanggan membayar pada hari ke 30 atau bahkan menunggak, perlu invstasi yg besar
D.    Piutang Tak Tertagih
Untuk memperbesar volume penjualan, banyak perusahaan melakukan transaksi penjualan secara kredit disamping penjualan secara tunai. Ini akan menimbulkan piutang bagi perusahaan yang melakukan piutang tersebut. Biasanya pembatasan terhadap jumlah penjual kredit bergantung pada bonafiditas pembeli.
Piutang yang diberikan kepada pelanggan diharapkan dapat tertagih pada waktu jatu tempo. Tapi, adakalnya piutang tidak dapat ditagih kembali. Artinya, rencana investai tidak dapat terealisasi. Sebagai pedoman untuk menentukan bahwa piutang benar-benar tidak tertagih, dapat digunakan hal-hal sebagai berikut:[5]
1.      Bila failisemen pelanggan telah selesai dan tidak ada lagi bagian harta yang diterima untuk pelunasan piutang,
2.      Bila usaha pelangga terhenti, pelangan menghilang tanpa diketahui alamatnya tau meninggal dunia tanpa meninggalkan harta.
3.      Nila penagihan dibatasi karena adanya peraturan khusus.
4.      Bila saldo piutang sudah lama terbuka dan surat hilang tidak pernah dibahas
5.      Bila agen atau badan perantara inkaso mampu lagi menagihnya.
Piutang yang kurang meyakinkan untuk dapat ditagih harus dicadangkan penghapusannya, sedangkan piutang yang sudah dianggap tidak tertagih sama sekali akan dihapuskan seluruhya sebagai beban biyaya penghapusan piutang ragu-ragu atau membebani penghapusan piutang.
E.     Langkah-langkah Pencegahan Resiko Tidak Tertagihnya Piutang.
Langkah-langkah pembayaran piutang tak tertagih sebgai berikut ini:[6]
Ø  Penentuan besarnya resiko yang akan ditanggung perusahaan, hal ini ditentukan atas dasar pengalamanpengalaman tahun-tahun sebelumnya. Misalnya resiko ditetapkan 10% dari piutang, jika perusahaan berencana meningkatkan penjualan dengan Rp 100.000 dan akan menyebabkan tambahan biaya Rp 50.000, maka tambahan keuntungannya adalah sebesar
Rp 40.000(100.000-50.000-(10%x100.000))
Ø  Kemampuan debitur memenuhi kewajibannya, hal ini dapat diukur dengan likuiditas dan rentabilitas. Selain itu perlu dipertimbangkan “soliditas”:
    1. soliditas komersiil, kejujuran debitur/direkturnya dalam memenuhi kewajibannya tepat pd waktunya.
    2. solidits finansiil, memiliki modal kerja yang cukup dalam memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya
    3. soliditas moril, sifat-sifat dan moril yang baik dari debitur/direkturnya.
    4. Membuat klasifikasi kredit tiap pelanggan, hal ini dapat digunakan daftar analisis umur piutang (aging schedule) sehingga diketahui sejarah kredit tiap-tiap pelanggan.
    5. Mengadakan seleksi calon pelanggan, berdasar sejarah kredit dapat ditentukan pelanggan mana yang dapat ditambah plafon kredit, diturunkan, atau tetap.
Ø  Membuat klasifikasi kredit tiap pelanggan, hal ini dapat digunakan daftar analisis umur piutang (aging schedule) sehingga diketahui sejarah kredit tiap-tiap pelanggan.
Ø  Mengadakan seleksi calon pelanggan, berdasar sejarah kredit dapat ditentukan pelanggan mana yang dapat ditambah plafon kredit, diturunkan, atau tetap
F.     Penilaian  dan Pencegahan Resiko Kredit
Resiko kredit adalah resiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada para langganan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang berusaha mengurangi resiko kredit dengan memperhatikan lima “C” sebelum memberikan persetujuan kredit.[7]
  1. Character, penilaian yang menyangkut kejujuran, kemungkinan dari para pelanggan secara jujur berusaha memenuhi kewajibannya.
  2. Capacity, pendapat subjektif mengenai kemampuan pelanggan. Ini diukur dari record tahun sebelumnya, atau dengan observasi fisik pada pabrik dan toko pelanggan.
  3. Capital, diukur oleh posisi finansial perusahaan secara umum, dimana hal ini ditunjukkan dengan analisis ratio finansiil, khususnya ditekankan pada “tangible networth” perusahaan.
  4. Collateral, dicerminan dari aktiva yang dijaminkan bagi keamanan kredit.
  5. Conditions, menunjukkan pengaruh langsung dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan atau perkembangan khusus dalam bidang ekonomi yang mempengaruhi efek terhadap kemampuan pelanggan untuk memenuhi kewajibannya.
Pencegahan resiko kredit dapat bula dilakukan degan cara sebgai berikut:
1.      Mencari informasi tentang mental kepribadian, penilaian diperoleh berdasarkan pandagan masyarakat serta pengalaman yang telah ada.
2.      Mencari informasi tentang kemapuan keuangan, informasi ini diperoleh melalui laporan keuangan dalam bentuk neraca, laporan laba rugi serta laporan lain yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan dan hasil yang telah dicapai.
3.      Mencari informasi tentang jalannya perusahaan, dalam hal ini posisi keuagan perusahaan sekarag ini apakah masi bisa dipertahankan untuk masa mendatang.
4.      Menetapkan kebijakan setahap demi setahap, dalam hali ini lebih memudahkan untuk mengotrol keadaan perusahaan.
5.      Membatasi jumlah piutang yang akan diberikan kepada pelanggan.
6.      Meminta barang jaminan, brang jaminan baik berupa barang atau Bank Garantie, akan lebih menjamin piutang yang diberi. Namun, perlu dipertimbangkan juga biyaya penyimpanan barang jaminan tersebut dan prakteknya tidak selau mudah dilakukan.
7.      Seleksi terhadap Verkooper atau agen, ada kalanya kemacetan piutang berasal dari pihak perusahaan itu sendiri karena terjadi permasalahan Internal. Sehingga penagihan tidak tepat pada waktunya.

G.    Budget Pengumpulan Piutang
Dalam pengumpulan piutang, pimpinan semestinya aktif menagih agar piutang yang telah jatuh tempo dapat mengalir ke dalam kas perusahaan tepat waktu dengan jumlah yang telah ditentukan. Cash inflows dari hasil penjualan secara kredit tidak dapat dikatan sebagai arus kas sebelum dibayar pada saat pemabayaran. Oleh karena itu pedoman penyusunan yang didasarkan pada atas budget pengumpulan piutang mempunyai arti penting di dalam merencanakan cash inflows.
Untuk memberikan suatu gambaran dari budget pengumpulan piutang, perhatikan contoh berikut:
a.       Budget pengumpulan piutang disusun berdasarkan penjualan
Budget Penjualan
Bulan penjualan
Jumlah penjualan
Juli
Agustus
September
Rp. 28.000,00
Rp. 35.000,00
Rp. 42.000,00

b.      Syarat pembayaran ditetapkan 3/2 net 30
c.       Rencana penjualan didasarkan atas taksiran akhir bulan
d.      Berdasarkan pengalaman cara pembayaran pelanggan:
1)      60% dari penjualan setiap bulan terkumpul dalam waktu 20 hari sesudah bulan penjualan.
2)      30% terkumpul dalam waktu setelah 20 hari dalam bulan yang sama, yaitu bulan pertama sesudah bulan penjualan.
3)      10% terkumpul dalam bulan kedua sesudah bulan penjualan.
Dari data di atas dapat disusun jadwal sebagai berikut:
PT. “ABC”
Jadwal pengumpulan piutang
Juli s/d September 2002
Waktu penjualan
Taksiran penjualan
Agustus
September
Oktober
Juli
Agustus
September
Rp. 28.000,00
Rp. 35.000,00
Rp. 42.000,00
Rp. 24.696,00
-
-
Rp. 2.800,00
Rp. 30.870,00
-
-
Rp. 3.500,00
Rp. 37.044,00
Jumlah piutang yang terkumpul setiap bulan

Rp. 24.696,00
Rp. 33.670,00
Rp. 40.544,00

Catatan :
a.       Penerimaan piutang dalam bulan agustus
·         60% x Rp. 28.000......................................................................... = Rp. 18.800,00
Potongan tunai = 3% x Rp. 16,800............................................... = Rp.      504,00
Jumlah penerimaan bulan agustus................................................ = Rp. 16.296,00

·         30% terkumpul dalam waktu 10 hari
Terakhir = 30% x Rp. 28.000 ...................................................... = Rp.  8.400,00
Jumlah penerimaan bulan Agustus .............................................. = Rp. 24.696,00
b.      Penerimaan piutang dalam bulan september
·         10% terkumpul dari sisa penjualan bulan Juli =
10% x Rp. 28.000,00.................................................................... = Rp.  2.800,00
·         60% x Rp. 35.000,00 ................................................................... = Rp. 21.000,00
Potongan tunai = 3% x Rp. 21.000,00 ........................................ = Rp.      630,00
·         30% terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir =
30% x Rp. 35.000,00 ................................................................... = Rp. 10.500,00
                                                                                                                   = Rp. 30.870,00
Jumlah penerimaan bulan september ........................................... = Rp. 33.670,00
c.       Penerimaan piutang dalam bulan oktober
·         10% terkumpul dari sisa penjualan bulan Agustus =
10% x Rp. 35.000,00 ................................................................... = Rp.   3.500,00
·         60% x Rp. 42.000,00 ................................................................... = Rp. 25.200,00
Potongan tunai 3% x Rp. 25.200,00..............................................= Rp.      756,00
                                                                                                                   = Rp. 24.444,00
·         30% terkumpul dalam 10 hari terakhir =
30% x Rp. 42.000,00 ................................................................... = Rp. 12.600,00
                                                                                                                   = Rp. 37.044,00
Jumlah penerimaan bulan oktober ............................................... = Rp. 40.544,00
Dari tabel diatas diperoleh perhitungan sebagai berikut:
·         Agustus akan terkumpul piutang sebesar Rp. 24.696,00
·         September akan terkumpul piutang sebesar Rp. 33.670,00
·         Oktober akan terkumpul piutang sebesar Rp. 40.544,00
Jadi, itulah jumlah cash inflows untuk bulan agustus, september, dan oktober.[8]

BAB III
PENUTUB
A. KESIMPULAN
Piutang adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang karena terjadinya transaksi dimasa lalu.  Piutang,  salah satu jenis transaksi akutansi yang mengurusi penagihan konsumen yang berhutang pada seseorang, suatu perusahaan, atau suatu organisasi untuk barang dan layanan yang telah diberikan pada konsumen tersebut.
Ruang lingkup menejemen piutang adalah:
·         Kebijaksanaan kredit standar kredit/kualitas rekening yang diterima, jangka waktu/periode kredit yang diberikan, discount/potongan tunai yang diberikan untuk pembayaran yang lebih awal.
·         Kebijaksanaan pengumpulan piutang, dan faktor-faktor lain yang relevan.
·         Keputusan kredit ini menyangkut tradeoff antara keuntungan(marginal profit) dan biaya tambahan (marginal cost) yang disebabkan oleh perubahan dalam salah satu atau kombinasi elemen-elemen tersebut.
Resiko kredit adalah resiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada para langganan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang berusaha mengurangi resiko kredit dengan memperhatikan lima “C” sebelum memberikan persetujuan kredit. Lima C yaitu: Character, Capacity, Capital, Collateral dan Conditions.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam Piutang adalah:
·         Volume penjualan kredit.
·         Syarat pembayaran (termin).
·         Ketentuan tentang pembatasan kredit.
·         Kebijakan dalam penagihan piutang.
·         Kebiasaan membayar pelanggan.

DAFTAR PUSTAKA
Manullang. 2005. Pengantar Menejemen Keuangan. Jokjakarta: Andi
Syamsuddin, Lukman. 2007. Menejemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Raja Grafindo
http://sepnazyik.wordpress.com/makalah-pendidikan/manajemen-piutang/


[1] Manullang. 2005. Pengantar Menejemen Keuangan. Jokjakarta: Andi. Hal: 36
[2] Ibid., Hal: 37
                [3] http://sepnazyik.wordpress.com/makalah-pendidikan/manajemen-piutang/
                [4] Manullang. 2005. Pengantar Menejemen Keuangan. Jokjakarta: Andi. Hal: 38
[5] Manullang. 2005. Pengantar Menejemen Keuangan. Jokjakarta: Andi. Hal: 40
[6] http://sepnazyik.wordpress.com/makalah-pendidikan/manajemen-piutang/, diakses tanggal 13 Nopember 2012. Pukul 11.45
[7] Manullang. 2005. Pengantar Menejemen Keuangan. Jokjakarta: Andi. Hal: 41
[8] Ibid. Hlm: 44-47

Ditulis Oleh : Amierul Azzam ~ Amierul El Neymar JR

Amier El Neymar JR Sobat sedang membaca artikel tentang Makalah Tentang Manajemen Piutang. Dan terimakasih atas kunjungan sobat. Oleh Admin : Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar: