26 April 2013

Menjadi Pemain Politik



Makin dekat saat Pemilu 2004 maka ‘hawa politik’ makin meningkat tajam hangatnya. Bahkan nanti akan terasa makin panas. Kalau tidak hati-hati menangani, dapat menyala betulan.
            Di tengah-tengah makin menghangatnya ‘hawa politik’ ini ada yang berani masuk dan menghirup ‘hawa politik’ itu dengan penuh semangat, ada yang ragu-ragu, dan ada pula yang menjauh atau malahan lari dari politik. Yang berani masuk ke politik adalah para aktivis, baik aktivis rutin maupun kambuhan. Yang ragu-ragu adalah penagamat atau mereka yang berlagak menjadi pengamat sedang yang menjauh atau lari dari politk biasanya adalah mereka yang pernah terluka akibat pertarungan politik, atau mereka yang sejak semula memang tidak percaya pada politik sebagai solusi.

Dalam kenyataan, politik memang dapat menjadi solusi, tetapi dapat juga malahan menjadi sumber masalah. Hanya saja penulis berpendapat kalau potensi politik sebagai solusi jauh lebh besar ketimbang sebagai sumber masalah. Dan yang penting, mau tidak mau kita musti akan berhadapan dengan politik dalam banyak kesempatan, kejadian dan dalam banyak kasus.
Salah satu potensi solusi dari politik adalah, dalam banyak hal, ternyata politik itu dapat menjadi alat untuk memperbaiki kehidupan, termasuk kehidupan bersama kita semua. Dalam bahasa populer di kampus, politik dapat menjadi tangga atau jalur bagi mereka yang ingin melakukan mobilitas sosial. Kita melihat dalam berbagai kasus di dunia, ada ibu rumah tangga dapat ,menjadi presiden karena mau berpolitik, ada dosen menjadi presiden juga karena berpolitik,  ada tukang parkir menjadi walikota, ada guru menjadi bupati dan pedagang menjadi walikota atau gubernur juga karena berpolitik.
Di masa lalu banyak orang yang percaya bahwa salah satu jalur atau tangga yang dapat diperguakan untuk melakukan mobilitas sosial adalah pendidikan. Salah satu tokoh yang percaya dengan hal ini  adalah Prof Dr Kuntowijoyo. Dalam salah satu pidatonya yang  memukai banyak orang, Prof Kuntowijoyo mengatakan yang dapat mengubah diri dan keluarganya adalah karena pendidikan. Kalau tidak ada pendidikan barangkali dirinya sekarang masih angon kebo.
Lalu ada yang berpendapat kalau ekonomi dapat menjadi jalur untuk melakukan moblitas sosial. Ini juga betul. Banyak orang yang semula dikenal sebagai orang yang melarat, tetapi karena mau bekerja keras ia kemudian sukses. Salah satu orang yang pernah memimpin maskapai penerbangan Garuda semula hanya pegawai biasa,  ada seorang penjual rokok yang kemudian menjadi pemilik toko buku terkenal, dan di Yogya ada tukang becak yang sekarang menjadi juragan becak dan hidupnya makmur.
Karena ekonomi dapat menjadi lantaran atau jalur untuk melakukan mobilitas sosial inilah maka dulu Prof Mubyarto pernah menelurkan konsep bagaimana mengangkat Desa Tertinggal dengan proyek IDT yang terkenal itu. dan seorang profesor yang lain malahan membuktikan bagaimana koperasi desa dapat mengubah petani menjadi lebih makmur.
Nah, yang tersedia di depan mata kita sekarang adalah jalur politik. Sebagai jalur untuk memperbaiki kehidupan sudah jelas tidak dapat diragukan lagi. Untuk ini penulis sepakat dengan Prof Nakamura yang mengatakan bahwa Muhammadiyah dalam Pemilu 2004 nanti hendaknya mau menjadi wasit. Itu bagus (SM,24/88/2003). Sebagai lembaga maka Muhammadiyah sudah pas kalau berada pada posisi wasit. Meski demikian agar warga Muhammadiyah mahir dan memiliki pengalaman sebagai pemain politik maka tidak salah juga kalau Muhammadiyah menganjurkan agar warga dan kadernya mau terjun dan ikut bermain dalam politik, tentu saja dengan tetap menjunjung tinggi fair play dan patuh aturan. Sebab dengan makin banyaknya kader persyarkatan yang terjun di politik, lewat berbagai partai atau lewat pencalonan perorangan maka di legislatif nanti Muhammadiyah akan okeh kancane atau banyak temannya.
Dan sebagai negara dan bangsa yang menganut demokrasi di mana parlemen menduduki posisi penting, dan eksekutif yang dipilih langsung juga penting maka banyaknya kader yang hadir dan eksis di dua lembaga itu akan sangat menguntungkan. Sebab kalau kita ingin mempengaruhi keputasan tentang kebijakan publik maka suara dari kita dapat lebih banyak. Demikian jka akan bertindak sebagai pengambil kebijakan secara langsung. Kalau kita ingn meneruskan langkah reformasi, maka kebutuhan akan suara yang banyak juga amat dibutuhkan, sehingga dapat mengimbangi atau mengalahkan mereka yang ingin memacetkan reformasi.
Dalam kaitan inilah maka para pemain yang aktif di tengah lapangan politik akan sama mulianya dengan para wasit yang tidak memihak. Sebab pemain tanpa wasit dapat amburadul, tetapi wasit tanpa pemain aktif  di lapangan juga tidak lucu. Upaya untuk memperbaiki lapangan pun akan lebih mudah dilakukan oleh para pemain itu sendiri.
Dengan demikian, politik jangan dijauhi, tetapi harus dihadapi. Para pemimpin kita di masa silam pun selalu berusaha menghadapi politk, bukan lari tunggang langgang darinya.
*) Praktisi hukum, mantan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah  Pemuda Muhammadiyah  DIY dan menjadi  muballigh keliling di Yogyakarta.

Ditulis Oleh : Amierul Azzam ~ Amierul El Neymar JR

Amier El Neymar JR Sobat sedang membaca artikel tentang Menjadi Pemain Politik. Dan terimakasih atas kunjungan sobat. Oleh Admin : Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar: