26 April 2013

Transformasi Budaya Lokal



Budaya lokal Indonesia yang mayoritas telah mengalami ‘Sentuhan’ Islam dapat ditandai dari beberapa hal.
Pertama, busana budaya lokal di kawasan budaya tersebut telah didesain untuk menutup aurat, baik aurat laki-laki maupun perempuan. Coba simak, dimana sentuhan Islam di masa silam cukup dominan, antara lain lewat berfungsinya kerajaan-kerajaan Islam yang membentang dari Aceh sampai Arafuru maka busana tradisional di tempat-tempat tersebut sudah tidak bertentangan dengan syariat Islam, dalam arti sudah menutup aurat.

Yang membedakan antara satu daerah dengan daerah lain hanya pernik-pernik, filosofi  di balik busana dan kelengkapannya. Tentang kapan busana tradisional itu dikenakan, di hampir semua budaya etnik di Indonesia nyaris seragam, Busana tradisional yang sudah Islami itu dikenakan untuk dua keperluan. Saat menjalani kehidupan sehari-hari, saat ada upacara dan kegiatan adat yang dikaitkan dengan siklus kehidupan manusia (mulai dari lahir, inisiasi/khitan, belajar mencari ilmu/mengaji, menikah, melahirkan, meninggal) maupun kegiatan yang dikaitkan degan siklus musim tahunan, atau dikaitkan dengan siklus hari-hari besar keagamaan, dan kegiatan rutin yang diadakan oleh kerajaan.
Kedua, seni pertunjukan lokal  di kawasan budaya tersebut juga didesain untuk mewartakan nilai-nilai Islam. Mulai dari nada-nada instrumen musik tradisional (dimana antara lain para wali mampu melakukan ‘revolusi’ musik mengubah gamelan menjadi memiliki karakter spiritual Islam), tema-tema garapan, kostum dan pola gerak maupun etika main di panggung sebenarnya secara simbolik sudah berdakwah dengan sendirinya. Seni pertunjukan lokal dari Aceh sampai  Maluku (negeri para raja) ini betul-betul  memiliki nilai fungsional dalam kehidupan masyarakat waktu itu. Yaitu sebagai penanda hari, penanda waktu dan penanda momentum-momentum kultural yang sengaja diciptakan oleh kerajaan Islam atau oleh masyarakar setempat. Dengan demikian seni pertunjukan ini dihidupi oleh masyarakat, dan secara ruhani menghidupi masyarakatnya. Nilai-nilai Islam yang telah dikemas apik dapat mengalir ke dalam kerongkongan jiwa masyarakat, menyegarkan kehidupan mereka, tanpa terasa dan tanpa paksaan.
Ketiga, seni membuat makanan tradisional lokal di kawasan budaya tersebut juga telah didesain sesuai dengan ajaran Islam. Yaitu mengandung insur halal dan thoyib sekaligus. Makanan dan penganan, juga minuman lokal yang diolah dengan aneka rempah-rempah, berasal dari bahan yang halal.
Berbagai jenis makanan yang diolah dengan banyak bumbu dan rempah-rempah itu ternyata mengandung keseimbangan berbagai kandungan zat yang dibutuhkan tubuh. Menyehatkan dan sesuai dengan iklim tropis. Berbagai rasa yang khas yang cocok dengan lidah, yang sebagian terpengaruh oleh masakan dari Arab, India, Pakistan, Tiongkok, sebagaian lagi merupakan hasil kreativitas local berupa penemuan sendiri selain lezat memang sungguh menyehatkan. Apalagi waktu itu belum ada bumbu sintetis macam bumbu masak kimia. Segalanya masih alami dan segar. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau orang dulu relatif lebih sehat dan lebih berumur panjang karena mereka mampu menjaga kualitas makanannya.
Keempat, seni kerajinan yang semula dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan praktis rumah tangga dan memenuhi kebutuhan simbolis kerajaan pun banyak yang disentuh dengan ajaran Islam. Berbagai karya puncak seni ukir, seni anyam, seni tenun, seni batik, seni melukis kaca misalnya banyak dihasilkan oleh masyarakat yang menjadi basis pengembangan Islam. Dengan menggunakan metode stilisasi, deformasi, sublimasi dan simbolisasi yang lembut dan dalam maka pesan-pesan spiritual Islam dapat dikemas dalam bentuk karya artistik kerajinan ini.
Kelima, seni arsitektur mengalami perubahan yang cukup penting. Setelah agama Islam datang di Indonesia, maka arsitektur bangunan hunian keluarga, bangunan publik bahkan pola pengaturan sebuah kota pun mengalami perubahan. Kota-kota yang disesain oleh para pendiri kerajaan-kerajaan Islam memiliki ciri khas untuk menyatukan kraton, alun-alun, masjid, pasar atau bandar dalam satu unit yang padu. Sementara itu secara detail pesan-pesan Islam dapat dibaca pada pengaturan rumah, yang didesain ada peshalatan atau musholla, tempat berwudlu dan ruang pendapat atau banguna lain sebagai tempat untuk menjalin silaturahmi dengan tamu dan tetangga. Pada bangunan publik pun demikian.
Lima unsur pembentuk budaya local itu hari ini mengalami nasib yang berbeda-beda. Ada yang masih dapat dipertahankan, ada yang sudah nyaris punah, ada yang mengalami proses pemaksaan deislamisasi, sekularisasi,  dan ada pula yang mengalami transformasi budaya. Terutama ketika kemudian sumber daya budaya ini lantas dipahami sebagai sumber daya ekonomi. Orang sekarang menyebut sebagai asset budaya, asset wisata lantas dijadikan obyek wisata dan pelengkap wisata. Ada beberapa tempat yang mengalami nasib mujur karena transformasi budaya unsur pembentuk budaya lokal kemudian mampu menyejahterakan penduduk setempat. Tetapi ada juga di beberapa tempat penduduk yang mayoritas Islam itu hanya mendapat remah-remah, sementara yang panen keuntungan justru para pemodal dan orang asing.
Sebenarnya kalau saja Lembaga Seni Budaya atau Majelis Kebndayaan Muhammadiyah mau dan mampu menjadi pendamping pada pendukung budaya local itu maka transformasi budaya yang terjadi dapat terarah dan mengarah pada transformasi yang positif, yang berkarakter rahamatan lil ‘alamin. Tetapi kapan ini terjadi? Itu masalahnya.

Ditulis Oleh : Amierul Azzam ~ Amierul El Neymar JR

Amier El Neymar JR Sobat sedang membaca artikel tentang Transformasi Budaya Lokal. Dan terimakasih atas kunjungan sobat. Oleh Admin : Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar: